Infoindomaju.com - PAREPARE -Mallusetasi meliputi Nepo, Bojo, Bacukiki, dan Soreang. Sejak saat itu wilayah Parepare merupakan bagian dari Kerajaan Mallusetasi. Keempat kerajaan.
Parepare abad XIV dan XV Dikenal BACUKIKI dan SOREANG suku BUGIS dan MAKASSAR
Parepare tempo doeloe adalah kota niaga maritim yang ramai, yang sudah ada sejak abad ke-14, tercatat dalam naskah lontara dan menjadi pelabuhan penting bagi kapal-kapal Portugis sebelum masa kolonial Belanda.
Kota ini merupakan bagian dari kerajaan-kerajaan Bugis seperti Soreang dan Suppa, serta menjadi basis militer Belanda sebelum menjadi bagian dari Indonesia, dan merupakan pusat perdagangan yang signifikan di Jazirah Sulawesi.
Kehidupan dan Perdagangan di Parepare Tempo Doeloe
Pusat Niaga:
Parepare dikenal sebagai bandar niaga yang kesohor pada masa lampau, bahkan jauh sebelum kedatangan Belanda.
Akses Maritim:
Jalur perdagangan internasional dan domestik sangat bergantung pada pelabuhan dan sungai. Sungai Salo Karajae yang besar dan lebar merupakan sarana transportasi utama yang menghubungkan kerajaan-kerajaan di dataran rendah dengan bandar niaga.
Naskah Sejarah:
Sejarah Parepare tercantum dalam dokumentasi kuno seperti Lontaraq Suppa dan Sureq I La Galigo.
Peran dalam Kerajaan Bugis:
Parepare memiliki sejarah panjang yang mengiringi perkembangan Kerajaan Soreang, Kerajaan Suppa, dan Konfederasi Ajatappareng.
Keberadaan Portugis:
Sebelum penjajahan Belanda, kapal-kapal PORTUGIS sudah sering berlalu lalang dan berlabuh di PELABUHAN BARAMMING, LONTANG'E, dan WATANG BACUKIKI.
Perubahan dari Masa ke Masa
Parepare adalah sebuah daerah yang telah mengalami banyak perubahan, dari kota bandar niaga di abad pertengahan, menjadi basis militer Hindia Belanda, hingga menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Masa Kolonial Belanda
Parepare juga menjadi salah satu basis militer Hindia-Belanda, menunjukkan peran strategisnya sebelum dan selama masa kolonial Belanda.
DI Kedua tempat Pemukiman warga masyarakat sudah ada di Lontangnge Cappa ujung SOREANG dan di lontangnge BACUKIKI. Perkampungan ABBANUANGNGE.
Di Watang Bacukiki terdapat Mesjid Tertua abad ke-15
Pada abad ke-14, Parepare mulai berkembang sebagai sebuah wilayah yang dipengaruhi oleh Kerajaan Suppa. Seorang anak raja Suppa, yang gemar memancing, meninggalkan istana dan mendirikan wilayah baru di tepi pantai, yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Soreang. Lokasi ini kemudian menjadi cikal bakal Kota Parepare.
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai Parepare pada abad ke-14:
Pengaruh Kerajaan Suppa: Parepare pada awalnya merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Suppa.
Pendirian Kerajaan Soreang: Seorang anak raja Suppa mendirikan wilayah baru di tepi pantai, yang kemudian menjadi Kerajaan Soreang.
Kegemaran Memancing: Anak raja tersebut memilih lokasi di tepi pantai karena hobinya memancing.
Cikal Bakal Kota: Wilayah ini kemudian menjadi cikal bakal Kota Parepare yang kita kenal sekarang.
Pelabuhan: Parepare kemudian berkembang menjadi pelabuhan penting, terutama karena posisinya yang strategis di tepi pantai dan terlindungi oleh tanjung.
Naskah lontara, Kerajaan Nepo berada di bagian pesisir barat dalam wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Awalnya, kerajaan Nepo merupakan kerajaan mandiri yang terdiri dari sejumlah wanua-wanua yang bersatu dalam satu kerajaan.
Seiring perkembangannya, kerajaan Nepo dipengaruhi oleh Kerajaan Bone, Kerajaan Suppa', Kerajaan Soppeng Riaja, Kerajaan Sidenreng, Kerajaan Gowa, dan Kerajaan Luwu.
Raja pertama dari Kerajaan Nepo bernama Labongngo yang merupakan putra bangsawan dari kerajaan Suppa'. Kerajaan Nepo memiliki pengaruh yang lebih kecil di wilayah Mallusetasi bila dibandingkan dengan Ajatappareng.[1]
Nama "Arung Mallusetasi" merujuk pada gelar atau jabatan bangsawan yang berasal dari wilayah Mallusetasi, yang saat ini merupakan bagian dari Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, bukan Kota Parepare. Meskipun demikian, wilayah Mallusetasi berdekatan dengan Parepare, dan keduanya memiliki sejarah yang terkait.
Penjelasan Lebih Lanjut:
Mallusetasi:
Merupakan salah satu dari empat wilayah tradisional di Barru, selain Tanete, Barru, dan Soppeng Riaja.
Arung:
Dalam bahasa Bugis, "Arung" berarti penguasa atau bangsawan.
Hubungan dengan Parepare:
Meskipun Mallusetasi bukan bagian dari Parepare, keduanya memiliki sejarah yang saling terkait, dan masyarakat di kedua wilayah ini sering berinteraksi.
Tokoh penting dari Parepare yang juga merupakan bangsawan Kerajaan Suppa dan pejuang kemerdekaan, menurut Wikipedia.
Parepare:
Dikenal juga sebagai Kota Kelahiran BJ Habibie dan memiliki julukan Kota Madani.
"Sejarah
Sunting
Pada awal perkembangan dataran tinggi ini, hanya terdapat semak belukar berlubang-lubang di lahan yang agak miring, yang tumbuh liar tak beraturan, membentang dari utara (Tepi Cappa) hingga ke rute selatan kota. Seiring berjalannya waktu, semak-semak tersebut kini telah menjadi kota Parepare.
Pada masa lampau di Parepare terdapat beberapa kerajaan, yaitu Kerajaan Suppa pada abad ke-14 dan Kerajaan Bacukiki pada abad ke-15.
Istilah "Parepare" berasal dari kalimat Raja Gowa, "Bajiki Ni Pare", yang berarti "(Pelabuhan di wilayah ini) baik." Sejak saat itu, nama "Parepare" merujuk pada kota pelabuhan tersebut. Parepare kemudian dikunjungi oleh orang-orang Melayu yang datang untuk berdagang di wilayah Suppa.
Melihat letaknya yang strategis berupa pelabuhan yang dilindungi tanjung di sisi depannya, Belanda langsung menaklukkan tempat ini pada kesempatan pertama dan menjadikannya kota penting di wilayah Sulawesi Selatan bagian tengah.
Pada masa Hindia Belanda, di Parepare terdapat seorang Asisten Residen dan seorang Controlur atau Gezag Hebber sebagai Kepala Pemerintahan (Hindia Belanda), sedangkan status daerahnya bernama Afdeling Parepare yang meliputi lima Onder Afdeling yaitu Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang, Pinrang dan Parepare.
Di setiap wilayah, terdapat Onder Afdeling Controlur atau Gezag Hebber yang berdomisili. Selain pejabat pemerintah Hindia Belanda, struktur Pemerintahan Hindia Belanda juga dibantu oleh pejabat pemerintah dan raja-raja Bugis, yaitu Arung Barru di Barru, Addatuang Sidenreng di Sidenreng Rappang, Sporting Enrekang di Enrekang, Addatung Sawitto di Pinrang, sementara di Parepare terdapat Arung Mallusetasi.
Struktur pemerintahan ini, hingga pecahnya Perang Dunia II, terjadi ketika Pemerintah Hindia Belanda diambil alih sekitar tahun 1942."


