Makam Raja-Raja Nepo, Bukti Situs
Kerajaan Besar di abad ke 16
Kerajaan Nepo atau Kerajaan Mallusetasi adalah salah satu kerajaan yang pernah didirikan di desa Nepo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru. Berdasarkan naskah lontara, Kerajaan Nepo berada di bagian pesisir barat dalam wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Awalnya, kerajaan Nepo merupakan kerajaan mandiri yang terdiri dari sejumlah wanua-wanua yang bersatu dalam satu kerajaan. Seiring perkembangannya, kerajaan Nepo dipengaruhi oleh Kerajaan Bone, Kerajaan Suppa', Kerajaan Soppeng Riaja, Kerajaan Sidenreng, Kerajaan Gowa, dan Kerajaan Luwu. Raja pertama dari Kerajaan Nepo bernama Labonggo yang merupakan putra bangsawan dari kerajaan Suppa'. Kerajaan Nepo memiliki pengaruh yang lebih kecil di wilayah Mallusetasi bila dibandingkan dengan Ajatappareng.[1]
Kerajaan Besar Pada Abad Ke-16
INFOINDOMAJU.COM- BARRU ' Makam Kuno Islam Nepo terletak di Desa Nepo. kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Secara historis Nepo tumbuh menjadi sebuah kerajaan unifikasi.
Dalam naskah lontara disebutkan bahwa unifikasi Nepo tersebut ditandai dengan mengangkat pemimpin pertamanya sebagai raja (arung) bernama Labonggo, putra bangsawan dari kerajaan Suppa.
NEPO adalah salahsatu Desa yang ada di Kabupaten Barru, berada di Wilayah Kecamatan Mallusetasi, pusat pemerintahannya saat ini berada di Dusun Lanrae (Pattanrongnge).
WATANG NEPO, adalah tempat dimana Rumah atau Istana Raja yang dalam bahasa bugis disebut SAORAJA itu pernah berdiri sebagai pusat kerajaan pada abad ke-16.
Sejarah telah mencatat bahwasanya, Kerajaan Nepo adalah sebuah kerajaan berdaulat yang berpengaruh penting di Sulawesi Selatan pada masa lampau.
Kerajaan ini terbentuk pada abad ke-16, setelah Raja Makassar I Mario Gau Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1546—1565) melakukan ekspansi perluasan kekuasaan terhadap kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan.
Karena itu kerajaan ini tidak tercatat sebagai salah satu kerajaan di antara kerajaan-kerajaan yang berkembang di pesisir barat jazirah selatan Pulau Sulawesi yang ditaklukan oleh Kerajaan Makassar.
.
Proses pcmbentukan Kerajaan Nepo dihubungkan dengan tokoh legendaris La Bonggo, setelah sebelumnya diperintah oleh Arung Patappuloe (Raja Empat Puluh).
Tokoh ini berperan membentuk Kerajaan Nepo, lepas dari Addatuang Sawitto.
Pengungkapan sejarahnya sangat penting dalam konteks sistem politik tradisional di Sulawesi Selatan.

Makam Kuno Islam Nepo terletak di Desa Nepo. kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Secara historis Nepo tumbuh menjadi sebuah kerajaan unifikasi atas sejumlah wanua-wanua.
Akan tetapi dalam perkembangannya Nepo mengalami dialektika politik dengan beberapa kerajaan besar di Sulawesi Selatan seperti;
Bone, Suppa’Soppeng, Sidenreng, Gowa dan Luwu.
Dalam naskah lontara disebutkan bahwa unifikasi Nepo tersebut ditandai dengan mengangkat pemimpin pertamanya sebagai raja (arung) bernama Labonggo, putra bangsawan dari kerajaan Suppa’.
Dari sumber tertulis maupun secara lisan menceritakan bahwa Nepo dan Kerajaan Tanete pernah menjadi kerajaan yang tangguh di wilayah Mallusetasi,
walaupun belum setangguh dengan kerajaan Lima Ajatapparang sebagai kerajaan tetangga yang terletak disebelah utaranya.
Makam raja-raja Nepo berdasarkan tahun Hijriah sudah berusia sekitar 122 tahun ( 1897 – 2019), dengan ciri makam tersendiri yaitu adanya nisan dipasang pada bagian tengahnya atau pada bagian kepala yang dimakamkan, sehingga nisan tersebut memiliki arti dan kedudukan yang sangat penting. Arti penting dari pemakaian nisan tersebut tidak terlepas dari pengaruh tradisi megalitik.
Makam yang mendapat pengaruh megalitik memiliki unsur-unsur tradisi megalitik yang tertuang dalam pahatan dan bangunan sakral, memakai batu alam menyerupai menhir atau bentuk patung yang sederhana.
Keadaan tersebut mencerminkan berlangsungnya tradisi megalitik dalam masyarakat saat itu.
Kerajaan Nepo pernah dipimpin oleh Arung Patappuloe (raja empat puluh) merupakan 40 raja yang memerintah secara bersamaan.
Seetelah arung patappuloe, terdapat 13 raja yang pernah memerintah di kerajaan Nepo, salahsatunya yaitu La Bonggo yang merupakan putra dari datu Suppa.
Berikut ini silsilah raja-raja Nepo:
Arung Patappuloe / Raja empat puluh
(40 raja yang memerintah secara bersamaan)
Arung La Bonggo
Arung I Timang Ratu
Arung La Makkaraka
Arung La Passampoi
Arung La Pabbiseang
Arung La Ippung
Arung La Solong
Arung Laica
Arung I Messang
Arung I Simatanah
Arung Singkeruka
Arung I Makung
Arung La Calo
La Calo adalah arung Nepo yang terakhir berkuasa sebab pada masa pemerintahannya pengaruh kolonial meluas dan menguat di Sulawesi Selatan, termasuk pula di kerajaan Nepo.
Saat ini, beberapa keturunan para raja-raja Nepo yang menjadi pejabat dibeberapa instansi pemerintahan, baik skala regional, Nasional maupun internasional, diantaranya adalah;
Daftar penguasa Nepo
- Baso Tungke.
- Puang Pitue.
- Arung Patappuloe.
- Arung La Bonggo.
- Arung I Timang Ratu.
- Arung La Makkaraka.
- Arung La Passampoi.
- Arung La Pabbiseang.